

Seorang ibu bernama Iman al-Masri berjuang melahirkan di tengah reruntuhan Gaza. Ia terpaksa mengungsi dari rumahnya di Beit Hanoun ke kamp pengungsian di Deir al-Balah. Saat usia kehamilannya delapan bulan, stres, kelaparan, dan kurang gizi memaksanya menjalani operasi caesar darurat.

Di ruang seadanya tanpa listrik dan peralatan lengkap, Iman melahirkan empat bayi kembar prematur, satu di antaranya harus dirawat intensif di NICU karena berat lahirnya sangat rendah.
“Saya hanya ingin mereka hidup,” katanya lirih dalam wawancara bersama Al Jazeera (27 Des 2023).
Kisah Iman hanyalah satu dari ribuan tragedi serupa. Dalam 15 bulan genosida di Gaza, lebih dari 61.700 jiwa syahid, termasuk 17.881 anak-anak dan 214 bayi baru lahir. Menurut Komisioner HAM PBB (2024), 70% korban adalah perempuan dan anak-anak. Banyak ibu terpaksa melahirkan tanpa anestesi, di bawah cahaya ponsel, di fasilitas yang sudah tak lagi layak disebut rumah sakit.

Kini, perempuan dan anak-anak Gaza berada di ambang krisis kesehatan terbesar dalam sejarah. Karena itu, DT Peduli bersama Maemuna Center Indonesia dan Aqsa Working Group (AWG) mengajak Anda membangun Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia di Gaza, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Palestina.
Rumah sakit empat lantai ini akan berdiri di Gaza Utara, bersebelahan dengan Rumah Sakit Indonesia, dengan lebih dari 190 tempat tidur, ICU, NICU, ruang bersalin, laboratorium, dan apotek. Total kebutuhan dana tahap pertama: Rp 201 miliar.

Sahabat Peduli, setiap donasi adalah napas kehidupan. Mari bantu ibu-ibu seperti Iman al-Masri agar mereka melahirkan dengan aman, bukan di bawah ancaman maut.
Bangun satu rumah sakit, selamatkan ribuan kehidupan.
